بسم الله الرحمن الرحيم


AKU HANYALAH SEORANG ANAK KECIL YANG SEDANG BELAJAR MEMAHAMI ARTI SEBUAH KEHIDUPAN DAN BELAJAR MENERIMA SEMUA YANG TERLIHAT OLEH MATA

Minggu

~:Muslim Sejati Pasti Bijaksana:~

Assalamualaikumwarokhmatullohiwabarokaatuh...

~~: Bismillahirrohmaanirrohim :~~ 


Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menciptakan alam ini secara seimbang. Di dalam al-Qur`an, Allah Ta’ala berfirman, Yang menciptakan tujuh langit berlapis-lapis.Tidak akan kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang,adakah kamu lihat sesuatu yang cacat? (Al-Mulk [67]: 3)



Adam Alaihissalam diciptakan oleh Allah Ta’ala sebagai bagian dari keseimbangan tersebut. Demikian pula seluruh keturunannya. Bukankah Allah Ta’ala telah menyeru segenap keturunan Adam agar menjadi khalifah di muka bumi?

Tugas berat ini tak akan berhasil bilamana manusia tidak dikaruniai fitrah bijaksana. Fitrah inilah yang mendorong manusia berbuat bijak dan menyukai kebijaksanaan.

Sebagai bukti, rakyat negeri manapun di dunia ini pasti lebih senang dipimpin orang-orang bijak yang berlaku adil dan melindungi rakyatnya ketimbang dipimpin orang-orang yang gemar mencelakakan orang lain.
Begitu juga sebuah keluarga akan bahagia jika dibina oleh suami dan istri yang bijaksana. Sebuah organisasi akan berkembang bila dipimpin oleh orang yang bijaksana. Bahkan, jangankan orang baik, penjahat pun akan merasa lega menerima keputusan dari hakim yang bijaksana.

Teladan Bijaksana

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW) adalah teladan manusia yang mampu mengejawantahkan fitrah kebijaksanaan secara paripurna. Sejarah banyak membukukan kisah-kisah ini.

Salah satunya, Rasulullah SAW pernah memerintahkan para Sahabat agar tidak membunuh kaum munafik di Madinah. Padahal, pembunuhan itu sah-sah saja. Sebab, mereka sangat mengganggu sekaligus mengancam keberadaan kaum Muslim di sana.

Terhadap salah seorang tokoh munafik, Abdulah bin Ubay, misalnya, Rasulullah SAW bersabda, ”Biarkanlah dia (hidup), agar jangan sampai orang-orang mengatakan bahwa Muhammad membunuhi sahabat-sahabatnya sendiri.” (Riwayat Bukhari)

Di penggalan sejarah yang lebih awal, Rasulullah SAW juga pernah menolak tawaran malaikat untuk menumpas orang-orang Thaif yang telah menolak dakwah beliau, bahkan menyakiti beliau.

Tawaran yang tidak main-main itu ditolak karena beliau berharap di antara keturunan mereka akan ada generasi yang mengenal Islam secara baik, bahkan boleh jadi mereka justru pembela Islam di garis terdepan.
Kebijaksanaan itu terbukti berbuah manis dengan masuk nya bangsa Thaif secara berbondong-bondong kepada Islam beberapa tahun pasca penolakan itu.

Pada bidang politik, strategi menyatukan suku-suku di Madinah yang berujung pada pembuatan piagam Madinah menjadi bukti lain kebijaksanaan Nabi SAW.

Para Sahabat yang dibina langsung oleh beliau memiliki kebijaksanaan yang tak kalah hebatnya. Umar bin Khathab Radhiyallahu Anhu , misalnya, menganggap penghargaan terhadap jiwa yang tak bersalah tak bisa ditandingi oleh seberapa pun jiwa yang bersalah.

Dalam kasus di Sana’a, misalnya, tujuh orang bersatu membunuh seorang anak, lalu Umar membuat keputusan dengan kata-katanya yang terkenal, ”Andaikan seluruh penduduk Sana’a melakukan kejahatan bersama membunuh seseorang (yang tidak bersalah), pasti akan aku bunuh mereka semua”. (al-Baihaqi, al-Sunan al-Sughra: VI/375)

Mengapa Mesti Bijaksana?

Kisah Rasulullah SAW dan para Sahabat tadi tentu harus kita teladani. Mengapa? Berikut ini alasan-alasannya:

1. Seorang Muslim adalah implementator kebijakan Ilahi

Seorang Muslim telah menyerahkan dirinya kepada Allah Ta’ala dalam melaksanakan semua kebijaksanaan-Nya. Bila demikian, tindakan seorang Muslim juga harus sebijaksana mungkin sesuai kehendak Allah Yang Maha Bijaksana itu.

Bila ada seseorang yang melakukan tindakan tidak bijaksana dalam melaksanakan perintah Allah Ta’ala, dapat dipastikan ada kesalahan dalam memahami dan menerapkan kebijaksanaan-Nya.

2. Urusan seorang Muslim adalah urusan besar yang bernilai tinggi.

Seorang Muslim harus menyadari bahwa misi penciptaannya tak lain hanyalah pengabdi Allah Ta’ala semata. Karena itulah seorang Muslim menjadi mulia di hadapan Sang Penciptanya.

Mengurus mahluk yang dimuliakan Allah Ta’ala agar menyadari misi penciptaannya tentu saja menjadi urusan besar yang bernilai tinggi di mata Allah Ta’ala. Urusan besar ini akan menghadapi tantangan besar dari musuh- musuh Islam.

Karena itu sangat logis bila urusan besar ini menuntut kebijaksanaan. Tidak mungkin tugas ini dilakukan kecuali oleh seorang Muslim.

3. Seorang Muslim adalah dai dan murabbi

Seorang Muslim berkewajiban mengajak manusia ke jalan yang telah digariskan oleh Allah Ta’ala. Itulah tugas seorang dai dan murabbi.

Dengan peranan mulia tersebut setiap Muslim terkadang menggunakan kata-kata yang lembut, namun sewaktu-waktu bisa menggunakan kalimat yang tegas.

Sikap menyayangi dan melindungi seharusnya mendominasi. Namun, bila diperlukan, sikap keras harus ditunjukkan.

Berkonsentrasi pada satu metode dakwah saja tentu tidak bijak. Sebab, Rasulullah SAW sendiri mencontohkan beragam metode sesuai kondisi manusia dan realitasnya. Dan, hanya orang-orang bijaksana yang bisa melakukannya.

4. Seorang Muslim diwajibkan memandang secara menyeluruh.

Perintah pertama yang turun kepada seorang Muslim adalah iqra’. Kata ini berarti ‘bacalah’. Turunan dari perintah ini adalah pahamilah, telitilah, cermatilah, dan pertimbangkanlah.

Bila seorang Muslim menjalani perintah pertama ini secara konsisten, rasanya mustahil ia tidak akan tumbuh menjadi pribadi yang bijaksana. Kalau pun terjadi kesalahan, ia tak akan mengulanginya lagi. Sebab, bagi seorang Muslim tak wajar jatuh dua kali dalam lubang yang sama. Nabi SAW bersabda, ”Seorang mukmin tidak akan tersengat (hewan berbisa) dua kali dari lubang yang sama.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

5. Di dalam al-Qur`an, bijaksana bermakna hikmah

Secara tekstual Allah Ta’ala memberi petunjuk yang gamblang tentang agama. Bahwa agama harus disajikan dengan hikmah. Salah satu makna dari hikmah adalah kebijaksanaan. Allah Ta’ala berfirman:

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِالْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. (Al-Nahl [16]:125)

Singkatnya, seorang Muslim adalah manusia yang dibimbing oleh wahyu. Jadi semestinya seorang Muslim menjadi pribadi yang bijaksana. Tak satupun alasan yang menolerir untuk berbuat yang tidak bijaksana.
Wallahu a’lam bish shawab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar