ODOJ-Ku Telah di Ujung Jalan
Cinta itu katanya hangat di awal, itu benar. Cinta bisa bertahan jika
satu dengan yang lain sudah berada dalam hati yang sama. Maka cinta
membutuhkan keterikatan hati dan fisik. Namun, cinta yang dirasakan kali
ini berbeda. Tidak pernah bersua, bertatap muka, dan hanya mengandalkan
rasa yang sama. Itulah yang terjadi pada para pencinta Al Quran dalam
komunitas One Day One Juz.
Bertatap tiga puluh orang dalam ruang chat yang sama. Memiliki maksud
dan komitmen yang suci, mengaji. Tidak pernah kenal dan saling tahu
sebelumnya tak jadi masalah. Karena perkenalan diawal terbentuknya grup
agaknya memiliki pesona tersendiri di hati para Odojers. Namun, sehari,
dua hari, sepekan, dua pekan masih terasa harmonis bak penganten baru.
Setiap ada bunyi 'tuing', hati berdesir senyum bersimpul memandangi isi
room chat.
Tapi ketika mencapai angka satu bulan, dua bulan?
Percintaan perlahan meredup. Euphoria khatam pertama kali, habis pada
hari itu saja. Selanjutnya mulai sibuk dengan urusan masing-masing.
Umumnya begitu, salut jika ada grup yang mampu mempertahankan
percintaannya hingga berbulan. Risiko terburuk memang belum pernah
terjadi, yaitu grup bubar. Jikalau ada yang kabur beramai-ramai mungkin
saja terjadi. Tapi umumnya, gagalnya percintaan dalam ODOJ adalah
perginya satu atau lebih Odojers dengan pelbagai alasan. Perceraianpun
terjadi maka harus segera mencari pengganti. Jika ingin kapal tetap
berlayar, maka tiga puluh orang penumpangnya harus dipastikan masih
bersuka ria menikmati perjalanan menuju Surga, insyaAllah.
Pada
kasus kebanyakan, retaknya rumah tangga ODOJ terjadi pada kelompok
perempuan. Mungkin dikarenakan kondisi psikologis yang lebih perasa.
Jika ada rasa tak nyaman dengan salah satu atau salah banyak kawan dalam
grup, lebih baik pergi dan bercerai. Atau adapula yang beralasan lain.
Sekali pun alasannya kadang tak masuk akal. Kasus seperti ini agaknya
sulit untuk mengupayakan rujuk. Karena jika sudah tak ada lagi cinta,
buat apa? Hilang satu, tumbuh seribu.
Selain kasus 'pergi tak
kembali', adapula kasus rumah tangga seperti kuburan. Sepi. Hanya ada
satu dua orang yang melapor kholas. Bahkan ucapan salampun jadi terasa
mahal. Padahal pada bulan pertama pertemuan, hebohnya bukan kepalang.
Lewat bulan selanjutnya, kehampaan dan kejenuhan mulai menjangkit
sehingga tak lagi ada kehangatan seperti awal merajut cinta. Tapi
perihal ini masih bisa dibincangkan dari hati ke hati. Setidaknya masih
ada cara untuk meremajakan cinta. Berikut, beberapa resep agar rumah
tangga ODOJ kita tetap bertahan sampai kapal berlabuh di dermaga surga :
1. Introspeksi diri (masing-masing Odojers)
2. Kalahkan ego, dan mulailah bicara. Awali dengan topik ringan. Jika
tak ada yang minat menanggapi, langsung pada cara 'tembak', ungkapkan
kejujuran hati. Pertanyakan apa yang dirisaukan. Jika anda kurang nyali,
silahkan japri kawan satu kelompok yang dikira mampu mengatasi.
3. Putar kembali kenangan saat awal merajut cinta.
4. Adakan event khusus internal grup. Semisal membuat jaket bersama,
membuat buku, kopi darat, beli pakaian bareng, foto-foto, apapun
kegiatan yang mampu merekatkan cinta yang mulai retak. Karena jika sudah
ada satu yang pecah, akan sulit untuk rekat kembali.
5.
Muhasabah diri tentang komitmen kita ber-ODOJ. Pembangunan komitmen
dengan Allah lebih utama dibandingkan komitmen pada grup. Karena apapun
yang terjadi, kita tetap mengaji.
Selamat mencoba! Semoga
rumah tangga ODOJ kita yang tadinya sudah di ujung jalan, bisa ditarik
lagi mendekati pagar. Sehingga suatu saat bisa kembali ke dalam rumah.
Dan bersama-sama merajut cinta yang pernah ada. Sehingga sakinah,
mawaddah, wa rahmah menjadi penghias rumah tangga ODOJ. Bahagia bersama
tiga puluh kawan calon penghuni Surga. Aamiin...